Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen_Red

Menakar Disetiap Jawaban

Gambar
"Sampai detik ini saya belum mencintai pekerjaan saya mbak", pernyataan yang muncul tiba-tiba dari seorang guru yang sudah belasan tahun mengajar di sekolah. Aku sempat bertanya dalam hati, "Alloh, apalagi ini? jawaban yang mana yang kau tunjukkan padaku?". Pembicaraan kami dimulai disaat kami harus menjaga tes waktu itu. Aku mengenal beliau ketika pelaksanaan tes. Selebihnya kami hanya meyapa seperlunya disekolah, tanpa mengetahui pribadi beliau. Mungkin Alloh sudah mengatur semuanya, agar aku dapat mengambil hikmah dari beliau.  Awalnya kami saling bertanya tentang domisili kami. Kemudian, lambat laun bapak ini mulai bercerita tentang pengalamannya ketika tes CPNS. Aku pun bercerita pengalamanku mengikuti tes itu yang hasilnya gagal karena tidak memenuhi passing grade yang ditentukan. Tapi aku tak menggambarkan ketertarikanku mengikuti CPNS, aku hanya ingin mendengar saja cerita bapak ini yang menurutku menarik. Ku dengarkan dengan penuh ingin...

Ketika Akhwat Mengajukan Diri

dakwatuna.com - “Assalamu’alaikum…” sapaku dengan nafas setengah tersengal pada Ka Mia sambil cipika cipiki. “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh… Sehat Dhir?” balasnya sambil tersenyum. “Alhamdulillah Ka… Kakak udah lama di sini?” sahutku sambil menyelonjorkan kaki. “Baru nyampe juga kok… Mbak Syifa telat katanya, kita diminta mulai dulu. Kita tunggu satu orang lagi aja ya baru kita mulai liqonya…” “Ok deh ka…” Kami sama-sama terdiam; aku melepas lelah sambil mengatur nafas yang sempat tersengal karena terburu-buru menuju masjid ini, sedangkan Ka Mia berkutat dengan BB di tangannya. Entahlah, aku melihat ada semburat yang berbeda dari wajah Ka Mia. Seperti tahu sedang diperhatikan olehku, Ka Mia langsung mengalihkan pandangannya dari BB di tangannya ke arahku. “Dhira, gimana kabar CV-mu? Udah ada CV ikhwan yang masuk belum dari Mbak Syifa?” sungging senyumnya dan pertanyaannya membuat hati ini dag dig dug. Waduuh, kenapa tiba-tiba sang kakak menanyakan hal ini? Aku seb...

Jalan Hidayah (Part !)

"Kalau dulu aku memilih pilihan hidup yang salah, kali ini aku tak mau salah lagi untuk berbahagia dengan anak dan suamiku." "Allah, aku tau dosaku amatlah besar padaMu, pada kedua orang tua ku, namun kini aku hanya memohon kebahagiaanku, orang tuaku dan keluargaku seutuhnya. Kumpulkanlah kami lagi di surgaMu ya Rabb..." Doaku di penghujung malam Idul Fitri, aku benar-benar ingin bersih seperti bayi yang baru lahir yang terus menabur kebaikan di bumi ini. Empat tahun silam, bagaikan mimpi buruk buatku. Saat kudapati diriku sakit tak berdaya di salah satu sel rumah sakit. Aku terdiagnosis demam berdarah dan juga typus. Kabar yang sampai membuat Ibuku datang dari tempat rantaunya. Dan yang paling membuatnya pilu adalah ketika beliau sendiri mendapati diriku yang tak suci lagi. Bagai makan buah simalakama, dan tersambar petir disiang bolong. Ibuku pingsan tak berdaya, air matanya tumbah tak terbendung lagi di depan dokter dan keluarga kami.  Aku yang...

Kala Proposalku Harus Aku Rapikan Lagi (End)

Gambar
"Belum, memang Faqih kenapa Ran, sudah lama kami lost contact? ", sambungan percakapanku dengan Rani waktu itu. Disela-sela pekerjaanku, sms kembali masuk ke inboxku, "Faqih masuk rumah sakit Za, dia sakit hati. Aku dapat info dari teman sekantornya. Kalau kamu punya waktu, tolong jenguk Za dia uda di kota asal. Kasihan..". pinta Rani dalam smsnya. Aku pun hanya menjawab, "InsyaAllah Ran..terimakasih infonya ;)". Secara tidak langsung memang aku kaget, setahuku dia tak pernah sakit separah ini. Sudah lama sekali aku tidak terhubung dengan Faqih, seseorang yang dahulu pernah mengisi hidupku. Sejak kami mengakhiri ikatan tak resmi itu kami sudah sudah tak terhubung, mungkin juga karena kesibukan kami masing-masing. Aku juga sudah fokus dengan pekerjaanku dan belajar menata hidupku agar lebih baik. Setelah pulang, aku beranikan diri untuk menghubunginya, dan menanyakan kebenaran informasi ini, dan ternyata benar. Mungkin Tuhan sudah mengatur ini semua, ...

Kala Proposalku Harus Aku Rapikan Lagi (Part 2)

Hari itu tepat hari jum’at, kami dipertemukan bersama di suatu tempat wisata yang belum pernah aku singgahi sebelumnya. Sebelumnya kami berempat sudah sepakat untuk menunggu di pintu masuk. Dan kebetulan, aku yang datang paling akhir. Setelah aku datang, kami semua masuk, aku sentak saja memasuki tempat yang masih asing bagiku. Ku jabat tangan temanku dan kami berjalan bersama dibelakang dua orang laki-laki,  yaitu mas Ali dan Yusuf, orang yang akan diperkenalkan padaku. Setelah mas Ali menentukan dimana tempat yang akan kami tempati, kami pun menuju kesana. Sebelumnya kami memesan makan dan minum sebagai pelengkap jamuan waktu itu. Mas Ali sebagai fasilitator akhirnya membuka pembicaraan, dan kami masing-masing memperkenalkan diri. Perkenalan dimulai dari biodata pribadi, dan selebihnya kami berempat saling berbincang tanpa scenario, mengalir dengan lancar. Di akhir pertemua itu kami bertukar nomor ponsel masing-masing. Untuk perkenalan lebih lanjut kami diperbolehkan untuk...

Kala Proposalku Harus Aku Rapikan Lagi {Part 1)

“Mbak..masku sudah bawa proposalmu, beliau mau baca dulu sebelum ketemu dengan temannya” , satu sms masuk kala waktu itu, aku sedang menemani temanku makan malam. Sambil mengobrol, aku sempatkan membalas sms singkat itu. Aku mengetikkan, “Iya ,makasih ya dik  J “ . Dengan cepat ia pun menjawab , “Sama-sama mbak  J ” , pun dengan emoticon senyum. Dalam makan malam itu kami pun melanjutkan perbincangan. Tak terlewatkan adalah cerita dari teman-teman kami kuliah. Dari yang selalu galau, yang sudah berkeluarga, bahkan yang masih tertahan oleh dosen bimbingannya. Ah….kami hanya berharap agar semua bahagia dengan kehidupan masing-masing. Lantas aku? Malam itu aku tak tau harus bersikap bagaimana. Aku juga tidak menceritakan masalahku ini dengan temanku. Ku rasa dia bukan orang yang tepat jikalau mendengar masalah ini. Aku hanya khawatir akan ada tanda tanya besar dan aku harus menjelaskannya dari A-Z. Dan kupikir untuk tidak menceritakannya. Finally, setelah aku mengantark...

Cinta Zahra

Di dalam kamar pengantin, mereka saling bergantian menyimak satu persatu hafalan surat di Al-Qur’an yang mereka punya setelah sebelumnya mereka sholat sunnah dua rakaat. Dengan berlimang air mata tanda bahagia dan tanda syukur pada Allah Ta’ala yang telah menyempurnakan dien mereka, yang mempertemukan dua jiwa yang memang sudah Dia tetapkan di lauful mahfudz. Disisi lain, di luar kamar, aku dan teman-teman, serta beberapa tamu menunggu kedua mempelai keluar dari singgasananya. Sesekali kami mendengar suara lantunan ayat suci   yang ada di balik dinding kamar. Kami setia menunggu sampai mereka keluar dan melanjutkan cengkrama bersama. “BARAKALLAHU LAKA WA BARAKA 'ALAIKA WA JAMA'A BAINAKUMA FIKHAIR” Rasa syukur yang tiada henti dipanjatkan kedua mempelai setelah sebelumnya akad nikah telah diperlangsungkan, tengadah tangan-tangan para tamu undangan untuk mengharap ridho dan barakah atas pernikahan Zahra dan Hanif turut serta membuatku terus berseru atas kebesaran...

Cemburu - End

Satu jam setelah keluargaku berkonsultasi dengan dokter, kemudian mereka kembali ke kamar dan telah mendapati aku dalam keadaan sadar. Aku lihat masih ada sisa-sisa air mata yang membasahi pipi ibuku. Kedua adikku yang tampak tanggap ketika melihatku sadar, mereka langsung memelukku dengan erat. Dan Bapak yang terakhir datang, tampak lebih tenang. Dengan berjalan cepat Ibu langsung memelukku, "Alhamdulillah nduk kamu sudah sadar". "Kan ada yang nungguin Bu", seru dua adikku serempak. Mereka sangat suka meledeki ku apalagi dengan Hafid, walau keluargaku tahu bahwa kami memang berteman baik. Aku tak ingin menambah kesedihan mereka, jadi aku putuskan untuk tidak menanyakan perihal penyakitku di rumah sakit. Dan lagi pula, ada Hafid di sana, aku juga tak mau apalagi dengan kejadian diantara kami, dia menaruh belas kasihan kepadaku. Dua hari aku dirawat di rumah sakit, setelah itu dokter mengijinkan aku untuk pulang karena memang aku juga sudah merasa baikan. Semuanya no...

Cemburu - Part 2

Seminggu lebih aku tidak berinteraksi dengan Ita bahkan Hafid. Mungkin memang butuh waktu bagi kami bertiga untuk berfikir. Kebetulan seminggu kemudian ada ujian semester, awalnya aku enggan mengajak mereka belajar bersama kembali. Namun, Ita menghubungiku dan memintaku untuk datang belajar bersama di kosnya. Untunglah waktu itu emosiku sudah agak stabil. Aku pun menerima ajakan Ita. Setibanya di kos Ita, ternyata Hafid sudah berada disana, dan aku pun sengaja datang telat. Tanpa rasa bersalah Hafid langsung nyamber, "Eh Zi, tadi malem aku nemuin buku bagus di Gramed lho" . Aku akhirnya menjawab karena penasaran, "Buku apa? ". Langsung dia jawab, " Itu bukunya mbak Asma yang terbaru, aku denger kamu lagi pengen bukunya, iya kan?" . "Lho kata sapa km? , tanyaku pada Hafid. Dengan nada enteng dia pun bilang bahwa Ita yang memberi tahukannya. Sontak aku jadi panas kembali, tapi kucoba tetap sabar menghadapi mereka. Aku harus tetap dingin menghadapi situa...

Cemburu - Part 1

Gambar
Aku cemburu, Ya aku cemburu saat kau menuliskan pesan-pesan itu di dinding FB nya. Memang, setelah kami lulus SMA aku memutuskan untuk mengurangi interaksi dan komunikasiku dengannya. Hafid nama panggilannya disekolah, namun kadang ia dipanggil Afi jika dirumah. Semasa SMA kami berada dalam satu kelas. Dia adalah siswa terpandai dikelasku. Sedangkan aku, aku Alhamdulillah masuk kedalam sepuluh besar, namun tidak sanggup untuk menandinginya dalam kelas. Didalam kelas kami, aku, Hafid, dan Ita adalah teman dekat. Bisa dibilang kami akrab, keakraban itu bermula dari seringnya belajar bersama seusai sekolah. Aku yang berasal dari luar kota, Hafid yang rumahnya di kota tempat sekolah berada, dan Ita yang ngekos di dekat sekolahan. Kami bertiga sering belajar bersama usai sekolah, kalau sedang ada ekstra, kami belajar di sekolah. Namun saat kami free, biasanya kami bertiga bertandang di kos Ita. Seperti kos kebanyakan, tamu laki-laki dilarang untuk masuk kamar, kebetulan ada ruang tamu ...